Kamis, 31 Januari 2013

Teknik Penangkapan Ikan Dengan Bantuan Cahaya

Friday, September 21, 2012




I.             Pendahuluan
 Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter: 1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299,792,458 detik. Kecepatan cahaya adalah 299,792,458 meter per detik.
Sifat-sifat cahaya :
-       Dapat dilihat oleh mata
-       transversal
-       Merambat menurut garis lurus
-       Memiliki energi
-       Dipancarkan dalam bentuk radiasi
-     Dapat mengalami pantulan, pembiasan, interfensi, difraksi (lenturan), dan polarisasi (terserap sebagian arah getarnya).
II.           Penggunaan Cahaya Sebagai Alat Bantu Dalam Usaha Penangkapan Ikan

A.    Sejarah penggunaan cahaya dalam penangkapan ikan
Penggunaan cahaya, terutama cahaya listrik dalam kegiatan penangkapan ikan pertama kali dikembangkan di Jepang sekitar tahun 1900, kemudian berkembang ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan tidak di ketahui dengan pasti, namun yang jelas sekitar tahun 1950an di pusat-pusat perikanan Indonesia Timur, dimana usaha penangkapan cakalang dengan pole and line marak dilakukan, penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan telah dikenal secara luas. Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II.
Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya yang digunakan sebagal alat bantu penangkapan di Indonesia antara lain:

a.     Obor
Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Dahulu alat ini banyak digunakan untuk penangkapan di Selat Bali. namun sekarang penggunaannya sulit ditemukan lagi.

b.    Lampu Petromaks 
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Di daerah Indonesia bagian timur penggunaan petromaks jenis kedua biasa dilakukan untuk melakukan penangkapan ikan di pinggiran pantai dengan cara menombak.

c.     Lampu Listrik 
Meskipun pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga listrik ini lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan, namun penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di Indonesia masih sangat terbatas.
B.    Prinsip dasar Light Fishing (perikanan menggunakan bantuan cahaya)
Cahaya berfungsi untuk menghasilkan area penangkapan buatan (artificial fishing ground), jika ikan-ikan belum terkumpul pada area tangkapan (catchable area), ataupun jika ikan-ikan berada di luar kemampuan tangkap dari jaring, maka haruslah diupayakan agar ikan-ikan itu terkumpul ke catchable area.
Ayodhya (1981) menyebutkan bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
Peristiwa langsung,
Peristiwa tidak langsung,
C.    Karakteristik penggunaan cahaya  dalam usaha penangkapan ikan
Tertariknya ikan pada cahaya sering disebutkan karena terjadinya peristiwa fototaxis. Cahaya merangsang ikan dan menarik ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya tersebut atau juga disebutkan karena adanya rangsangan cahaya, ikan kemudian memberikan responnya. Peristiwa ini dimanfaatkan dalam penangkapan ikan yang umumnya disebut light fishing atau dari segi lain dapat juga dikatakan memanfaatkan salah satu tingkah laku ikan untuk menangkap ikan itu sendiri. Fungsi cahaya dalam penangkapan ikan ini ialah untuk mengumpulkan ikan sampai pada suatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring ataupun pancing dan alat-alat lainnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian batas optimum kekuatan intensitas cahaya telah menjadi salah satu pokok bagian dari penelitian para ahli biologi laut kelautan. Ayodhyoa (1981) mengatakan agar light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, maka diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
-       Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh, baik secara horisontal maupun vertikal.
-       Ikan-ikan tersebut diupayakan berkumpul ke sekitar sumber cahaya.
-       Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada dalam area sumber cahaya pada suatu jangka waktu tertentu (minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi).
-       Pada saat ikan-ikan tersebut berkumpul di sekitar sumber cahaya, diupayakan semaksimal mungkin agar ikan-ikan tersebut tidak melarikan diri ataupun menyebarkan diri.
Dilihat dari tempat penggunaannya dapat dibedakan antara lain lampu yang dipergunakan di atas permukaan air dan lampu yang dipergunakan di dalam air.
Struktur lampu di dalam air sangat berbeda dengan lampu-lampu biasa yang digunakan di atas permukaan air. Penetrasi cahaya pada perairan sangat bergantung sekali terhadap kondisi perairan itu sendiri dan yang paling menentukan adalah warna laut dan tingkat transparansi air. Warna laut dalam hal ini berhubungan dengan jenis warna lampu yang dipancarkan dari lampu itu sendiri. Semakin besar tingkat transparansi perairan semakin besar pula tingkat kedalaman penetrasi sumber cahaya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa warna cahaya yang baik digunakan pada light fishing adalah biru, kuning dan merah (Sudirman dan Mallawa, 2004).
A.    Persyaratan Daerah Penangkapan Ikan Buatan dengan Alat bantu Cahaya
a.     Syarat Lingkungan
Persyaratan utama dalam penggunaan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan adalah kondisi lingkungan yang mendukung sehingga peran dan fungsi cahaya menjadi lebih efisien. Kondisi lingkungan yang baik adalah cahaya lampu yang digunakan pada malam yang gelap. Fase bulan menjadi faktor yang menentukan gelap dan terangnya bulan. Light fishing hanya akan efektif dilaksanakan pada bulan gelap, dengan demikian cahaya lampu tidak dapat dioperasikan pada siang hari. Pada saat bulan terang penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan menjadi sangat tidak efektif. Akibat adanya cahaya lain yang turut mempengaruhi behavior dari ikan-ikan di perairan.
b.    Syarat Penangkapan
Selain faktor-faktor lingkungan diatas, ada beberapa syarat lain yang menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan antara lain :
1)    Cahaya yang akan digunakan harus tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui behavior dari ikan-ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya.
2)    Cahaya yang digunakan juga harus mampu menarik ikan pada jarak yang jauh baik vertikal maupun horisontal, untuk syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.
3)    Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul pada area penangkapan tertentu.
4)    Waktu yang tepat untuk menentukan mulai penangkapan terhadap ikan-ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar ikan tidak melarikan diri atau menyebar.
c.     Syarat Biologi
Dalam hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya, perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan-ikan yang akan ditangkap. Salah satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya vertikal harian ikan tersebut. Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :
1)    Jenis ikan pelagis yang muncul sedikit diatas termoklin pada siang hari.
2)    Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari.
3)    Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari
4)    Jenis ikan dasar (demersal fish) berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari, beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi hari.
5)    Jenis-jenis ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada waktu malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan.
6)    Jenis ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.

B.    Kuat Dan Kemampuan Penglihatan Ikan Dalam Air
Cahaya yang masuk ke dalam air akan mengalami pereduksian yang jauh lebih besar bila dibandingkan dalam udara. Hal tersebut terutama disebabkan adanya penyerapan dan perubahan cahaya menjadi berbagai bentuk energi, sehingga cahaya tersebut akan cepat sekali tereduksi sejalan dengan semakin dalam suatu perairan. Pembalikan dan pemancaran cahaya yang disebabkan oleh berbagai partikel dalam air, keadaan cuaca dan gelombang banyak memberikan andil pada pereduksian cahaya yang diterima air tersebut. Dengan demikian daya penglihatan ikan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut (Gunarso, 1985).
DAFTAR PUSTAKA 
Anonymous. 1975. Standard Statistik Perikanan. Buku I. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Anonymous. 2002. Profil Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Ayodhyoa. 1976. Teknik Penangkapan Ikan. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodhyoa. 1981. Metode Penangkapan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Damanhuri. 1980. Diktat Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Effendi, M.I. 1979. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Tama. Yogyakarta.
Fridman, A.L. 1969. Theory And Design Of Commercial Fishing Gear. Israel Program For Scientific Translation. Jerusalem.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat, Metoda Dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Hidayat, S. dan Sedarmayanti. 2002. Metodologi Penelitian. Mandar Maju. Bandung.
Laevastu, T. and I. Hella. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London.
Laevastu, T. and M.L. Hayes. 1991. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News. Farnham.
Muhammad, S. 1991. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Mitsugi, S. 1974. Fish Lamps. Japanese Fishing Gear and Methods Textbook for Marine Fisheries Research Course. Japan.
Nedelec, C. 2000. Definisi Dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan. Published by Arrangement with the Food and Agriculture Organization of The United Nation. Diterjemahkan oleh Bagian Proyek Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Suherman, Agus. 2005. Laporan Kegiatan Penggunaan Lampu Merkuri dalam Perikanan Mini Purse Seine di Jepara.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro.

Jumat, 25 Januari 2013

Bagan Tancap



Bagan tancap merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Indonesia. Meskipun pengoperasian alat tangkap ini dianggap mengganggu jalur pelayaran, namun jumlahnya terus bertambah. Beberapa alasan yang dapat menjelaskan tingginya tingkat pertumbuhan unit penangkapan bagan adalah tingkat efisiensi dan efetivitas unit penangkapan bagan lebih tinggi dibandingkan alat tangkap lainnya. Tingginya efisiensi unit penangkapan bagan disebabkan karena bagan tidak memerlukan bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar sehingga mendorong peningkatan pertumbuhan alat tangkap bagan. Metode pengoperasian unit penangkapan bagan tidak rumit dan mudah diterima nelayan. Pengoperasian bagan tancap banyak dilakukan di beberapa daerah seperti Teluk Jakarta, perairan Jepara dan perairan Serang. Jumlah unit penangkapan bagan pada tahun 2006 di Serang mencapai 8,96% dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 17,73% yang dianggap cukup tinggi dibanding alat tangkap lainnya. Jumlah bagan tancap di Teluk Jakarta meningkat 39,89% pada tahun 2006 (Lee 2010).
Unit Sumberdaya
Ikan yang menjadi target penangkapan bagan adalah jenis ikan pelagis kecil yang memiliki sifat fototaksis positif atau jenis-jenis ikan yang tertarik terhadap cahaya. Kecenderungan ini disebabkan daya tembus cahaya yang pada saat pengoperasian hanya berada di permukaan. Namun, pada kenyataannya jenis-jenis ikan lain seperti ikan predator dan demersal non-fototaksis positif ikut tertangkap oleh bagan. Beberapa ikan predator yang tertangkap oleh bagan antara lain, layur, tenggiri, alu-alu hingga ikan besar seperti albakor dan cakalang juga tidak jarang ikut tertangkap. Tertangkapnya ikan predator oleh bagan disebabkan jenis ikan tersebut menemukan gerombolan ikan-ikan kecil di sekitar bagan sebagai makanan ikan tersebut. Ikan akan mendekati cahaya karena cahaya merupakan indikasi keberadaan makanan bagi predator (Lee 2010).
Takril (2005) menyebutkan hasil tangkapan bagan selama kurun waktu 1984 hingga 2003 menunjukan bahwa ikan hasil bagan terdiri dari empat kelompok besar yaitu pelagis kecil, pelagis besar, demersal dan total spesies yang tertangkap selama kurun waktu tersebut berjumlah 39 jenis. Beberapa spesies dominan yang tertangkap oleh bagan diantaranya teri (Stolephorus spp), tembang (Sardinella fimbriata), kembung (Rastrelliger spp), selar (Selaroides sp), layang (Decapterus spp), pepetek (Leiognathus sp), layur (Trichiurus savala) dan cumi-cumi (Loligo sp). Ikan pelagis umumnya filter feeder yaitu pemakan plankton dengan cara menyaring plankton lalu memilih jenis plankton yang disukainya ditandai dengan adanya tapis insang yang banyak dan halus. Lain halnya dengan ikan selar yang merupakan ikan buas pemangsa ikan-ikan kecil dan krustasea. Ikan pelagis kecil membentuk gerombolan padat di siang hari, sedangkan pada malam hari naik ke permukaan membentuk gerombolan menyebar.
Unit Penangkapan Ikan
Alat tangkap bagan termasuk dalam golongan jaring angkat. Bagan pertama kali diperkenalkan tahun 1950-an oleh orang-orang Makassar dan Bugis di daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Kemudian dalam tempo relatif singkat alat tangkap ini sudah dikenal di seluruh Indonesia. Salah satu variasi alat tangkap bagan yaitu bagan tancap (stationary lift net). Bagan tancap dikelompokan sebagai jaring angkat (lift net). Komponen operasi bagan tancap terdiri dari alat tangkap, nelayan sebagai pelaku operasi dan bangunan bagan sebagai pengganti kapal pengoperasian alat tangkap. Pengoperasiannya dilakukan dengan menurunkan dan mengangkat jaring secara vertikal. Waktu pengoperasiannya hanya pada malam hari (light fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Subani & Barus 1989).
Alat ini terdiri atas bangunan bagan dan jaring bagan. Bangunan bagan merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh di atas perairan. Alat tangkap ini bersifat immobile (tetap). Bangunan bagan umumnya berukuran 9×9 m, sedangkan untuk ukuran jaring satu meter lebih kecil dari ukuran bangunan tersebut. Bangunan bagan ditancapkan ke dasar perairan selama proses penangkapan sehingga tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas, yaitu pada perairan dangkal. Adapun ketinggian alat tangkap ini dari dasar perairan rata-rata 12 m. Kedalaman perairan untuk tempat pemasangan alat tangkap ini rata-rata adalah 8 m. Pada daerah tertentu ada yang memasang pada kedalaman 15 m. Jaring yang biasa digunakan pada alat tangkap ini terbuat dari waring dengan mesh size 0,5 cm. Posisi jaring pada bagan terletak di bagian bawah bangunan bagan. Jaring diikatkan pada bingkai bambu yang berbentuk segi empat. Bingkai bambu tersebut dihubungkan dengan tali pada ke empat sisinya yang berfungsi untuk menaik-turunkan jaring. Adapun alat bantu yang biasa digunakan untuk menaikan atau menurunkan jaring adalah roller. Pada keempat sisi jaring diberi pemberat agar posisi jaring tetap stabil selama dilakukan perendaman (Nurdiana 2005). Gambar bangunan dan jaring bagan tancap dapat dilihat pada Gambar berikut.
Ciri khas penangkapan dengan bagan ialah menggunakan alat bantu penerangan (light fishing).  Perkembangan teknologi penangkapan ikan dari waktu ke waktu menghasilkan teknologi yang efektif dan efisien. Penggunaan teknologi penangkapan ikan dengan alat bantu lampu sebagai sumber cahaya untuk mengumpulkan ikan sudah lama dikenal nelayan. Perkembangan yang berarti terjadi sejak tahun 1950-an. Pada mulanya sumber cahaya yang digunakan adalah obor, lalu seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mulailah digunakan lampu minyak, gas karbit, lampu gas dan lampu listrik (Subani & Barus 1989).
Alat tangkap bagan tancap modern menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan. Keberhasilan penangkapan ikan sangat dipengaruhi kekuatan cahaya lampu yang digunakan. Lampu yang ditempatkan di atas permukaan air maka arah perambatan cahaya pada medium udara adalah lurus. Adanya gelombang justru akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi redup dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Makin besar gelombang maka makin besar pula flickering light-nya sehingga makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikan yang menjadi target penangkapan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penggunaan lampu yang konstruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik (Nurdiana 2005).
Ketertarikan ikan pada cahaya sering disebut karena terjadinya peristiwa fototaksis. Cahaya merangsang ikan dan menarik (attract) ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya. Peristiwa berkumpulnya ikan di bawah cahaya dapat dibedakan secara langsung dan tidak langsung. Peristiwa langsung terjadi ketika ikan-ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul, sedangkan peristiwa tak langsung yaitu ketika cahaya menyebabkan plankton, ikan-ikan kecil dan sebagainya berkumpul lalu ikan yang lebih besar datang dengan tujuan mencari makanan (Lee 2010).
Metode Operasi Penangkapan Ikan
Pengoperasian bagan tancap umumnya dimulai pada saat matahari mulai tenggelam. Penangkapan diawali dengan penurunan jaring sampai kedalaman yang diinginkan. Selanjutnya lampu mulai dinyalakan untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul di bawah sinar lampu atau di sekitar bagan. Pengangkatan jaring dilakukan apabila ikan yang terkumpul sudah cukup banyak dan keadaan ikan-ikan tersebut cukup tenang. Jaring diangkat sampai berada di atas permukaan air dan hasil tangkapan diambil dengan menggunakan serok. Pengoperasian tersebut menggunakan atraktor cahaya sehingga alat ini tidaklah efisien apabila digunakan pada saat bulan purnama. Adapun tahapan-tahapan metode pengoperasian bagan tancap adalah sebagai berikut : persiapan, setting, hauling dan brailing. Persiapan sangat diperlukan sebelum pengoperasian alat tangkap karena hal ini dapat menentukan keberhasilan dalam penangkapan ikan. Hal yang biasa dilakukan adalah pengecekan jaring bagan, pengecekan roller untuk menurunkan dan menarik jaring bagan, dan segala yang dibutuhkan pada saat pengoperasian (Subani & Barus 1989).
Awal penggunaan alat tangkap yakni penurunan jaring pada bangunan bagan. Tahap ini merupakan tahap setting dimana jaring biasanya diturunkan secara perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang diinginkan. Proses setting tidak membutuhkan waktu begitu lama (Takril 2005). Proses selanjutnya ialah proses perendaman jaring. Selama jaring berada dalam air, nelayan melakukan pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar bangunan untuk memperkirakan jaring akan diangkat. Proses pengamatan dilanjutkan dengan pengumpulan ikan yakni dengan menyalakan lampu di atas permukaan air, yaitu jarak 0,5 m dari permukaan laut bila laut tenang dan 1-1,5 m dari permukaan laut bila laut bergelombang. Lampu tersebut dibiarkan menyala hingga ikan tampak berkumpul di lokasi bagan (Subani & Barus 1989).
Pengangkatan jaring (hauling) dilakukan setelah kawanan ikan terlihat berkumpul di lokasi penangkapan. Kegiatan ini diawali dengan pemadaman lampu secara bertahap, hal ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terkejut dan tetap terkonsentrasi pada bagian bagan di sekitar lampu yang masih menyala. Ketika ikan sudah terkumpul di tengah-tengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan. Hingga akhirnya ikan tersebut akan tertangkap oleh jaring. Setelah pengangkatan jaring, hasil tangkapan diambil menggunakan serok dan dipindahkan ke dalam basket untuk diangkut ke darat. Proses pemindahan hasil tangkapan dari jaring menggunakan serok merupakan proses brailing (Takril 2005).
Sumber: Kompas (2009)
Pengoperasian alat tangkap bagan tancap di beberapa tempat cenderung merugikan jalur pelayaran sehingga standar lokasi pengoperasian alat tangkap ini perlu ditinjau ulang. Lokasi yang tepat sangat diperlukan untuk kenyamanan nelayan maupun masyarakat sekitar lokasi pengoperasian. Selain itu, sumberdaya ikan pelagis dapat mengalami penurunan jika penangkapan berlebih sehingga modifikasi alat tangkap bagan tancap yang dapat membantu pelestarian ikan pelagis sangat diperlukan.

Daftar Pustaka
Kompas. 2009. Bagan tancap. http://citizenimages.kompas.com (23 Desember 2011)
Lee JW. 2010. Pengaruh periode hari bulan terhadap hasil tangkapan dan tingkat pendapatan nelayan bagan tancap di Kabupaten Serang. [tesis]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Nurdiana. 2005. Iluminasi cahaya lampu pijar 25 watt pada medium udara dan aplikasinya pada perikanan bagan tancap. [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Subani W, Barus H. 1989. Alat penangkapan ikan dan udang laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Edisi Khusus
Takril. 2005. Hasil tangkapan sasaran utama dan sampingan bagan perahu di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Wagiyo K, Hartati ST, Priyatna A. 2006. Sebaran, intensitas, produktifitas, komposisi dan kondisi biologi ikan hasil tangkapan alat tangkap pasif menetap di Teluk Jakarta. Prosiding Seminar Nasional Ikan IV di Jatiluhur, 29-30 Agustus