Friday, September 21, 2012
I. Pendahuluan
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter: 1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299,792,458 detik. Kecepatan cahaya adalah 299,792,458 meter per detik.
Sifat-sifat cahaya :
- Dapat dilihat oleh mata
- transversal
- Merambat menurut garis lurus
- Memiliki energi
- Dipancarkan dalam bentuk radiasi
- Dapat mengalami pantulan, pembiasan, interfensi, difraksi (lenturan), dan polarisasi (terserap sebagian arah getarnya).
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter: 1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299,792,458 detik. Kecepatan cahaya adalah 299,792,458 meter per detik.
Sifat-sifat cahaya :
- Dapat dilihat oleh mata
- transversal
- Merambat menurut garis lurus
- Memiliki energi
- Dipancarkan dalam bentuk radiasi
- Dapat mengalami pantulan, pembiasan, interfensi, difraksi (lenturan), dan polarisasi (terserap sebagian arah getarnya).
II. Penggunaan Cahaya Sebagai Alat Bantu Dalam Usaha Penangkapan Ikan
A. Sejarah penggunaan cahaya dalam penangkapan ikan
Penggunaan cahaya, terutama cahaya listrik dalam kegiatan penangkapan ikan pertama kali dikembangkan di Jepang sekitar tahun 1900, kemudian berkembang ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan tidak di ketahui dengan pasti, namun yang jelas sekitar tahun 1950an di pusat-pusat perikanan Indonesia Timur, dimana usaha penangkapan cakalang dengan pole and line marak dilakukan, penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan telah dikenal secara luas. Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II.
Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya yang digunakan sebagal alat bantu penangkapan di Indonesia antara lain:
a. Obor
Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Dahulu alat ini banyak digunakan untuk penangkapan di Selat Bali. namun sekarang penggunaannya sulit ditemukan lagi.
b. Lampu Petromaks
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Di daerah Indonesia bagian timur penggunaan petromaks jenis kedua biasa dilakukan untuk melakukan penangkapan ikan di pinggiran pantai dengan cara menombak.
c. Lampu Listrik
Meskipun pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga listrik ini lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan, namun penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di Indonesia masih sangat terbatas.
A. Sejarah penggunaan cahaya dalam penangkapan ikan
Penggunaan cahaya, terutama cahaya listrik dalam kegiatan penangkapan ikan pertama kali dikembangkan di Jepang sekitar tahun 1900, kemudian berkembang ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan tidak di ketahui dengan pasti, namun yang jelas sekitar tahun 1950an di pusat-pusat perikanan Indonesia Timur, dimana usaha penangkapan cakalang dengan pole and line marak dilakukan, penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan telah dikenal secara luas. Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II.
Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya yang digunakan sebagal alat bantu penangkapan di Indonesia antara lain:
a. Obor
Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Dahulu alat ini banyak digunakan untuk penangkapan di Selat Bali. namun sekarang penggunaannya sulit ditemukan lagi.
b. Lampu Petromaks
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Di daerah Indonesia bagian timur penggunaan petromaks jenis kedua biasa dilakukan untuk melakukan penangkapan ikan di pinggiran pantai dengan cara menombak.
c. Lampu Listrik
Meskipun pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga listrik ini lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan, namun penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di Indonesia masih sangat terbatas.
B. Prinsip dasar Light Fishing (perikanan menggunakan bantuan cahaya)
Cahaya berfungsi untuk menghasilkan area penangkapan buatan (artificial fishing ground), jika ikan-ikan belum terkumpul pada area tangkapan (catchable area), ataupun jika ikan-ikan berada di luar kemampuan tangkap dari jaring, maka haruslah diupayakan agar ikan-ikan itu terkumpul ke catchable area.
Ayodhya (1981) menyebutkan bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
Peristiwa langsung,
Peristiwa tidak langsung,
Cahaya berfungsi untuk menghasilkan area penangkapan buatan (artificial fishing ground), jika ikan-ikan belum terkumpul pada area tangkapan (catchable area), ataupun jika ikan-ikan berada di luar kemampuan tangkap dari jaring, maka haruslah diupayakan agar ikan-ikan itu terkumpul ke catchable area.
Ayodhya (1981) menyebutkan bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
Peristiwa langsung,
Peristiwa tidak langsung,
C. Karakteristik penggunaan cahaya dalam usaha penangkapan ikan
Tertariknya ikan pada cahaya sering disebutkan karena terjadinya peristiwa fototaxis. Cahaya merangsang ikan dan menarik ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya tersebut atau juga disebutkan karena adanya rangsangan cahaya, ikan kemudian memberikan responnya. Peristiwa ini dimanfaatkan dalam penangkapan ikan yang umumnya disebut light fishing atau dari segi lain dapat juga dikatakan memanfaatkan salah satu tingkah laku ikan untuk menangkap ikan itu sendiri. Fungsi cahaya dalam penangkapan ikan ini ialah untuk mengumpulkan ikan sampai pada suatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring ataupun pancing dan alat-alat lainnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian batas optimum kekuatan intensitas cahaya telah menjadi salah satu pokok bagian dari penelitian para ahli biologi laut kelautan. Ayodhyoa (1981) mengatakan agar light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, maka diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
- Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh, baik secara horisontal maupun vertikal.
- Ikan-ikan tersebut diupayakan berkumpul ke sekitar sumber cahaya.
- Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada dalam area sumber cahaya pada suatu jangka waktu tertentu (minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi).
- Pada saat ikan-ikan tersebut berkumpul di sekitar sumber cahaya, diupayakan semaksimal mungkin agar ikan-ikan tersebut tidak melarikan diri ataupun menyebarkan diri.
Tertariknya ikan pada cahaya sering disebutkan karena terjadinya peristiwa fototaxis. Cahaya merangsang ikan dan menarik ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya tersebut atau juga disebutkan karena adanya rangsangan cahaya, ikan kemudian memberikan responnya. Peristiwa ini dimanfaatkan dalam penangkapan ikan yang umumnya disebut light fishing atau dari segi lain dapat juga dikatakan memanfaatkan salah satu tingkah laku ikan untuk menangkap ikan itu sendiri. Fungsi cahaya dalam penangkapan ikan ini ialah untuk mengumpulkan ikan sampai pada suatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring ataupun pancing dan alat-alat lainnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian batas optimum kekuatan intensitas cahaya telah menjadi salah satu pokok bagian dari penelitian para ahli biologi laut kelautan. Ayodhyoa (1981) mengatakan agar light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, maka diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
- Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh, baik secara horisontal maupun vertikal.
- Ikan-ikan tersebut diupayakan berkumpul ke sekitar sumber cahaya.
- Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada dalam area sumber cahaya pada suatu jangka waktu tertentu (minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi).
- Pada saat ikan-ikan tersebut berkumpul di sekitar sumber cahaya, diupayakan semaksimal mungkin agar ikan-ikan tersebut tidak melarikan diri ataupun menyebarkan diri.
Dilihat dari tempat penggunaannya dapat dibedakan antara lain lampu yang
dipergunakan di atas permukaan air dan lampu yang dipergunakan di dalam
air.
Struktur lampu di dalam air sangat berbeda dengan lampu-lampu biasa yang
digunakan di atas permukaan air. Penetrasi cahaya pada perairan sangat
bergantung sekali terhadap kondisi perairan itu sendiri dan yang paling
menentukan adalah warna laut dan tingkat transparansi air. Warna laut
dalam hal ini berhubungan dengan jenis warna lampu yang dipancarkan dari
lampu itu sendiri. Semakin besar tingkat transparansi perairan semakin
besar pula tingkat kedalaman penetrasi sumber cahaya. Hasil-hasil
penelitian menunjukkan bahwa warna cahaya yang baik digunakan pada light
fishing adalah biru, kuning dan merah (Sudirman dan Mallawa, 2004).
A. Persyaratan Daerah Penangkapan Ikan Buatan dengan Alat bantu Cahaya
a. Syarat Lingkungan
Persyaratan utama dalam penggunaan cahaya lampu sebagai alat bantu
penangkapan adalah kondisi lingkungan yang mendukung sehingga peran dan
fungsi cahaya menjadi lebih efisien. Kondisi lingkungan yang baik adalah
cahaya lampu yang digunakan pada malam yang gelap. Fase bulan menjadi
faktor yang menentukan gelap dan terangnya bulan. Light fishing hanya
akan efektif dilaksanakan pada bulan gelap, dengan demikian cahaya lampu
tidak dapat dioperasikan pada siang hari. Pada saat bulan terang
penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan menjadi sangat tidak
efektif. Akibat adanya cahaya lain yang turut mempengaruhi behavior dari
ikan-ikan di perairan.
b. Syarat Penangkapan
Selain faktor-faktor lingkungan diatas, ada beberapa syarat lain yang menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Cahaya yang akan digunakan harus tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui behavior dari ikan-ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya.
2) Cahaya yang digunakan juga harus mampu menarik ikan pada jarak yang jauh baik vertikal maupun horisontal, untuk syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.
3) Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul pada area penangkapan tertentu.
4) Waktu yang tepat untuk menentukan mulai penangkapan terhadap ikan-ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar ikan tidak melarikan diri atau menyebar.
Selain faktor-faktor lingkungan diatas, ada beberapa syarat lain yang menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Cahaya yang akan digunakan harus tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui behavior dari ikan-ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya.
2) Cahaya yang digunakan juga harus mampu menarik ikan pada jarak yang jauh baik vertikal maupun horisontal, untuk syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.
3) Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul pada area penangkapan tertentu.
4) Waktu yang tepat untuk menentukan mulai penangkapan terhadap ikan-ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar ikan tidak melarikan diri atau menyebar.
c. Syarat Biologi
Dalam hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya, perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan-ikan yang akan ditangkap. Salah satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya vertikal harian ikan tersebut. Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :
1) Jenis ikan pelagis yang muncul sedikit diatas termoklin pada siang hari.
2) Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari.
3) Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari
4) Jenis ikan dasar (demersal fish) berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari, beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi hari.
5) Jenis-jenis ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada waktu malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan.
6) Jenis ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.
Dalam hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya, perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan-ikan yang akan ditangkap. Salah satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya vertikal harian ikan tersebut. Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :
1) Jenis ikan pelagis yang muncul sedikit diatas termoklin pada siang hari.
2) Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari.
3) Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari
4) Jenis ikan dasar (demersal fish) berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari, beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi hari.
5) Jenis-jenis ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada waktu malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan.
6) Jenis ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.
B. Kuat Dan Kemampuan Penglihatan Ikan Dalam Air
Cahaya yang masuk ke dalam air akan mengalami pereduksian yang jauh lebih besar bila dibandingkan dalam udara. Hal tersebut terutama disebabkan adanya penyerapan dan perubahan cahaya menjadi berbagai bentuk energi, sehingga cahaya tersebut akan cepat sekali tereduksi sejalan dengan semakin dalam suatu perairan. Pembalikan dan pemancaran cahaya yang disebabkan oleh berbagai partikel dalam air, keadaan cuaca dan gelombang banyak memberikan andil pada pereduksian cahaya yang diterima air tersebut. Dengan demikian daya penglihatan ikan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut (Gunarso, 1985).
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1975. Standard Statistik Perikanan. Buku I. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Anonymous. 2002. Profil Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Ayodhyoa. 1976. Teknik Penangkapan Ikan. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodhyoa. 1981. Metode Penangkapan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Damanhuri. 1980. Diktat Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Effendi, M.I. 1979. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Tama. Yogyakarta.
Fridman, A.L. 1969. Theory And Design Of Commercial Fishing Gear. Israel Program For Scientific Translation. Jerusalem.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat, Metoda Dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Hidayat, S. dan Sedarmayanti. 2002. Metodologi Penelitian. Mandar Maju. Bandung.
Laevastu, T. and I. Hella. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London.
Laevastu, T. and M.L. Hayes. 1991. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News. Farnham.
Muhammad, S. 1991. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Mitsugi, S. 1974. Fish Lamps. Japanese Fishing Gear and Methods Textbook for Marine Fisheries Research Course. Japan.
Nedelec, C. 2000. Definisi Dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan. Published by Arrangement with the Food and Agriculture Organization of The United Nation. Diterjemahkan oleh Bagian Proyek Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Suherman, Agus. 2005. Laporan Kegiatan Penggunaan Lampu Merkuri dalam Perikanan Mini Purse Seine di Jepara.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro.
Anonymous. 1975. Standard Statistik Perikanan. Buku I. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Anonymous. 2002. Profil Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Ayodhyoa. 1976. Teknik Penangkapan Ikan. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodhyoa. 1981. Metode Penangkapan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Damanhuri. 1980. Diktat Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Effendi, M.I. 1979. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Tama. Yogyakarta.
Fridman, A.L. 1969. Theory And Design Of Commercial Fishing Gear. Israel Program For Scientific Translation. Jerusalem.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat, Metoda Dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Hidayat, S. dan Sedarmayanti. 2002. Metodologi Penelitian. Mandar Maju. Bandung.
Laevastu, T. and I. Hella. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London.
Laevastu, T. and M.L. Hayes. 1991. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News. Farnham.
Muhammad, S. 1991. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Mitsugi, S. 1974. Fish Lamps. Japanese Fishing Gear and Methods Textbook for Marine Fisheries Research Course. Japan.
Nedelec, C. 2000. Definisi Dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan. Published by Arrangement with the Food and Agriculture Organization of The United Nation. Diterjemahkan oleh Bagian Proyek Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Suherman, Agus. 2005. Laporan Kegiatan Penggunaan Lampu Merkuri dalam Perikanan Mini Purse Seine di Jepara.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar